Minggu, 09 Desember 2012

MAKALAH KELOMPOK DEMAM BERDARAH DENGUE

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Selama ini semua manusia pasti mengatahui dan mengenal serangga yang disebut nyamuk. Antara nyamuk dan manusia bisa dikatakan hidup berdampingan bahkan nyaris tanpa batas. Namun, berdampingannya manusia dengan nyamuk bukan dalam makna positif. Tetapi nyamuk dianggap mengganggu kehidupan umat manusia. Meski jumlah nyamuk yang dibunuh manusia jauh lebih banyak daripada jumlah manusia yang meninggal karena nyamuk, perang terhadap nyamuk seolah menjadi kegiatan tak pernah henti yang dilakukan oleh manusia.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.

Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak M Demam Berdarah Dengue (DBD) kini sedang mewabah, tak heran jika penyakit ini menimbulkan kepanikan di Masyarakat. Hal ini disebabkan karena penyakit ini telah merenggut banyak nyawa. Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI terdapat 14 propinsi dalam kurun waktu bulan Juli sampai dengan Agustus 2005 tercatat jumlah penderita sebanyak 1781 orang dengan kejadian meninggal sebanyak 54 orang. DBD bukanlah merupakan penyakit baru, namun tujuh tahun silam penyakit inipun telah menjangkiti 27 provinsi di Indonesia dan menyebabkan 16.000 orang menderita, serta 429 jiwa meninggal dunia, hal ini terjadi sepanjang bulan Januari sampai April 1998 (Tempo, 2004). WHO bahkan memperkirakan 50 juta warga dunia, terutama bocah-bocah kecil dengan daya tahan tubuh ringkih, terinfeksi demam berdarah setiap tahun.


I.2. Rumusan Masalah


Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam pembahasan makalah ini adalah:
  1. Apakah penyakit DBD itu?
  2. Apakah klasifikasi DBD?
  3. Apa yang menjadi agent penularan penyakit DBD
  4. Bagaimana kejadian penyakit DBD?
  5. Apakah jenis carier penykit DBD?
  6. Bagaimana cara penularan penyakit DBD?
  7. Bagaimana manifestasi klinik penyakit DBD?
  8. Apakah yang menjadi kerentanan ataupun ketahanan penyakit DBD?
  9. Bagaimana cara mencecegah dan penanggulangan penyakit DBD?

I.3. Tujuan

    Adapun yang menjadi tujuan dalam pembahasan makalah ini adalah:
  1. Untuk mengetahui penyakit DBD.
  2. Untuk mengetahui klasifikasi DBD
  3. Untuk mengetahui agent penularan penyakit DBD
  4. Untuk mengetahui Bagaimana kejadian penyakit DBD
  5. Untuk mengetahui jenis carier penykit DBD
  6. Untuk mengetahui Bagaimana cara penularan penyakit DBD
  7. Untuk mengetahui Bagaimana manifestasi klinik penyakit DBD
  8. Untuk mengetahui Apakah yang menjadi kerentanan ataupun ketahanan penyakit DBD
  9. Untuk mengetahui Bagaimana cara mencecegah dan penanggulangan penyakit DBD


BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Pengertian DBD

Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah.[2] Virus dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.[3] Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembab.[2] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid).


II.2. Klasifikasi DBD
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1986, penyakit DBD dibagi menurut berat ringannya.  Secara singkat klasifikasinya adalah:
  • Derajat 1 – jika terdapat tanda-tanda demam disertai gejala-gejala yang lain, seperti mual, muntah, sakit pada ulu hati, pusing, nyeri otot, dan lainnya, tanpa adanya perdarahan spontan dan bila dilakukan uji tourniquet menunjukkan hasil positif (+) terdapat bintik-bintik merah.  Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan tanda-tanda hemokonsentrasi dan trombositopenea.
  • Derajat 2 – jika terdapat tanda-tanda dan gejala seperti yang terdapat pada DBD Derajat 1 disertai adanya perdarahan spontan pada kulit ataupun tempat lain (gusi, mimisan, dll)
  •  Derajat 3 – jika telah terdapat tanda-tanda shock, yaitu dari pengukuran nadi didapatkan hasil cepat dan lemah; tekanan darah menurun; penderita gelisah; dan tampak kebiru-biruan pada sekitar mulut, hidung, dan ujung-ujung jari.
  •  Derajat 4 – jika penderita telah jatuh pada keadaan shock, penderita kehilangan kesadaran dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tidak terukur.  Kondisi seperti ini disebut DSS – Dengue Shock Syndrome.  Penderita berada dalam keadan kritis dan memerlukan perawatan yang intesif di ruang ICU.


II.3. Agent penularan

Wabah demam berdarah yang menarik perhatian dunia pertama kali muncul di Manila pada tahun 1954. Sebagian besar kasus demam berdarah terjadi di negara yang terletak pada daerah tropis dan subtropis. Hal ini tidak mengherankan karena nyamuk suka dengan lingkungan yang hangat untuk hidup.

Virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor pembawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4

Nyamuk Aedes aegypti merupakan pembawa virus dari penyakit Demam Berdarah.Nyamuk demam berdarah ini memiliki siklus hidup yang berbeda dari nyamuk biasa. Nyamuk ini aktif dari pagi sampai sekitar jam 3 sore untuk menghisap darah yang juga berarti dapat menyebarkan virus demam berdarah. Sedangkan pada malam hari, nyamuk ini tidur. Maka, berhati-hatilah terhadap gigitan nyamuk pada siang hari dan cegah nyamuk ini menggigit anak yang sedang tidur siang.

Kebiasaan dari nyamuk ini adalah dia senang berada di genangan air bersih dan di daerah yang banyak pohon seperti di taman atau kebun. Genangan air pada pot bunga mungkin menjadi salah satu tempat favorit nyamuk yang dapat terlupakan oleh Anda.


II.4. Kejadian DBD
   
Musim hujan telah tiba, masyarakat diminta waspada terhadap Demam Berdarah Dengue. Untuk mengindari penyakit yang belum ada obat maupun vaksinnya ini, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pemberantasan jentik nyamuk dengan 3M Plus (mengubur, menguras dan menutup plus hindari gigitan nyamuk).

Demikian pesan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama berkaitan peningkatan kasus DBD di berbagai daerah serta datangnya musim hujan di Jakarta, 4 Desember 2009.

Menurut Dirjen P2PL, sejak Januari – Oktober 2009, Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menelan 1.013 korban jiwa dari total penderita sebanyak 121.423 orang (CFR: 0,83). Jumlah ini meningkat dibandingkan periode tahun 2008 yaitu 953 orang meninggal dari 117.830 kasus (CFR: 0,81). Jangan tunggu jatuh banyak korban lagi, lakukan 3 M Plus secara bersama-sama.

Dari kasus yang dilaporkan selama tahun 2009, tercatat 10 provinsi yang menunjukkan kasus terbanyak, yaitu Jawa Barat (29.334 kasus 244 meninggal), DKI Jakarta (26.326 kasus 33 meninggal), Jawa Timur (15.362 kasus 147 meninggal), Jawa Tengah (15.328 kasus, 202 meninggal), Kalimantan Barat (5.619 kasus, 114 meninggal), Bali (5.334 kasus, 8 meninggal), Banten (3.527 kasus, 50 meninggal), Kalimantan Timur (2.758 kasus, 34 meninggal), Sumatera Utara (2.299 kasus, 31 meninggal), dan Sulawesi Selatan (2.296 kasus, 20 meninggal), ujar Prof. Tjandra.

Beberapa provinsi yang mengalami peningkatan kasus dibandingakan tahun 2008 adalah Jambi, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat dan Papua.

Korban akibat DDB diperkirakan terus bertambah terutama pasca banjir, pergantian musim, dan pada waktu curah hujan jarang terjadi dimana banyak penampungan air seperti vas bunga, tendon air/ water toren, bak mandi, tempayan serta ban bekas, kaleng bekas, botol minuman bekas dan sebagainya yang dekat dengan lingkungan pemukiman penduduk tidak dibersihkan, sehingga menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti penular DBD.

Nyamuk ini juga menularkan penyakit Chikungunya yang menyerang otot-otot dan menimbulkan nyeri berat. Menggigit pada siang hari dengan waku efektif 2 jam setelah matahari terbit (pukul 08.00 12.00 dan beberapa jam setelah matahari tenggelam (pukul 15.00 – 17.00). Setelah digigit nyamuk, antara 3 – 14 hari kemudian atau biasanya 4 – 7 hari akan menunjukkan gejala atau tanda-tanda DBD. Penyakit ini dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti, yaitu menggunakan obat nyamuk oles (repellent), menggunakan kelambu bila tidur siang, dan usir nyamuk dengan obat nyamuk bakar/ semprot baik di dalam maupun di luar rumah pada pagi dan sore hari.

Tanda atau gejala DBD yang muncul seperti bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu suhu badan lebih dari 38OC, badan terasa lemah dan lesu, gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat, nyeri ulu hati, dan muntah. Dapat pula disertai pendarahan seperti mimisan dan buang air besar bercampur darah serta turunnya jumlah trombosit hingga 100.000/mm3. Tidak perlu menunggu semua gejala ini muncul, bila menemukan beberapa tanda segera periksakan ke dokter atau sarana kesehatan terdekat.

Pertolongan pertama pada penderita dapat dilakukan dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya (air masak, air dalam kemasan, air teh, dsb), mengompreskan air dingin pada penderita, serta memberikan obat penurun panas. Bila ada riwayat kejang, berikan obat anti kejang.

II.5. Carier DBD
Jenis carier penyakit DBD adalah Healthy Carier, dimana tidak menular melalui kontak manusia secara langsung pada manusia yang masih sehat tanpa gejala klinis. tetapi dapat ditularkan melalui nyamuk.  Nyamuk Aedes Aegypti betine menyimpan virus dengue pada telurnya, selanjutnya akan menularkan virus ini ke manusia lewat gigitan.  Sekali menggigit, nyamuk ini akan berulang menggigit orang lain sehingga dengan mudah darah seseorang yang mengandung virus dengue dapat cepat dipindahkan ke orang lain, yang palingdekat tentulah orang yang tinggal dalam satu rumah.
Namun, virus dengue yang sudah masuk ke dalam tubuh seseorang, tidak selalu dapat menimbulkan infeksi, jika orang itu mempunyai daya tahan tubuh yang kuat sehingga dengan sendirinya virus ini akan dilawan oleh tubuh.


II.6. Cara Penularan
Seseorang yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue dalam darah selama 4-7 hari mulai  1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk  temasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1  minggu  setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi eksentrik). Virus akan tetap berada di dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia
Nyamuk Aedes (Stegomyia) betina biasanya akan terinfeksi virus dengue saat menghisap darah penderita yang berada pada fase demam (viremik) akut penyakit. Setelah masa eksentrik selama 8 sampai 10 hari, kelenjar air liur nyamuk menjadi terinfeksi dan virus disebarkan ketika nyamuk yang infektif menggigit dan menginjeksikan air liur ke luka gigitan pada orang lain. Setelah masa inkubasi pada tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-6 hari), sering kali terjadi awitan mendadak penyakit itu, yang ditandai dengan demam, sakit kepala,  mialgia, hilang nafsu makan, dan berbagai tanda serta gejala nonspesifik lain termasuk mual, muntah, dan ruam kulit.

II.7. Manifestasi Klinis
   
Infeksi virus dengue dapat bermanifestasi pada beberapa luaran, meliputi demam biasa, demam berdarah (klasik), demam berdarah dengue (hemoragik), dan sindrom syok dengue.
  • Demam berdarah (klasik)
Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda tergantung usia pasien. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi pada pasien demam berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi (menorrhagia).
  • Demam berdarah dengue (hemoragik)
Pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) biasanya menunjukkan gejala seperti penderita demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah. Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.

  • Sindrom Syok Dengue

Sindrom syok adalah tingkat infeksi virus dengue yang terparah, di mana pasien akan mengalami sebagian besar atau seluruh gejala yang terjadi pada penderita demam berdarah klasik dan demam berdarah dengue disertai dengan kebocoran cairan di luar pembuluh darah, pendarahan parah, dan syok (mengakibatkan tekanan darah sangat rendah), biasanya setelah 2-7 hari demam. Tubuh yang dingin, sulit tidur, dan sakit di bagian perut adalah tanda-tanda awal yang umum sebelum terjadinya syok. Sindrom syok terjadi biasanya pada anak-anak (kadangkala terjadi pada orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue untuk kedua kalinya. Hal ini umumnya sangat fatal dan dapat berakibat pada kematian, terutama pada anak-anak, bila tidak ditangani dengan tepat dan cepat. Durasi syok itu sendiri sangat cepat. Pasien dapat meninggal pada kurun waktu 12-24 jam setelah syok terjadi atau dapat sembuh dengan cepat bila usaha terapi untuk mengembalikan cairan tubuh dilakukan dengan tepat. Dalam waktu 2-3 hari, pasien yang telah berhasil melewati masa syok akan sembuh, ditandai dengan tingkat pengeluaran urin yang sesuai dan kembalinya nafsu makan.
Masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue, dan Kira-kira 1  minggu  setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi eksentrik). Virus akan tetap berada di dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya



II.8. Kerentanan Atau Ketahanan DBD

Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu, risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, dan Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, Tapi kini sudah merata, bisa menyerang siapa saja tanpa batasan usia dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.

Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk. ).  Demam berdarah dapat menyebabkan perdarahan yang hebat dan 30% kasus dapat menyebabkan kematian (Sani, 1999).  Secara global di dunia dari 2 miliar orang sebanyak 100 juta terserang Demam berdarah dan  sebanyak 100.000 orang mengalami kematian di India DBD menjadi endemi di derah perkotaan maupun pedesaan.
    .

II.9. Pencegahan dan penanggulangan 
Pengasapan atau fogging bermanfaat membunuh nyamuk Aedes dewasa untuk mencegah penyebaran demam berdarah. Hingga kini, belum ada vaksin atau obat antivirus bagi penyakit ini. Tindakan paling efektif untuk menekan epidemi demam berdarah adalah dengan mengontrol keberadaan dan sedapat mungkin menghindari vektor nyamuk pembawa virus dengue. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu: 
  • Lingkungan     :   Pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan mengendalikan vektor nyamuk, antara lain dengan menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah, dan perbaikan desain rumah.

  • Biologis   :  Secara biologis, vektor nyamuk pembawa virus dengue dapat dikontrol dengan menggunakan ikan pemakan jentik dan bakteri
  • Kimiawi  :  Pengasapan (fogging) dapat membunuh nyamuk dewasa, sedangkan pemberian bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air dapat membunuh jentik-jentik nyamuk. Selain itu dapat juga digunakan larvasida.Selain itu oleh karena nyamuk Aedes aktif di siang hari beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan senyawa anti nyamuk yang mengandung DEET, pikaridin, atau minyak lemon eucalyptus, serta gunakan pakaian tertutup untuk dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk bila sedang beraktivitas di luar rumah. Selain itu, segeralah berobat bila muncul gejala-gejala penyakit demam berdarah sebelum berkembang menjadi semakin parah.
Hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit demam berdarah, sebagai berikut:
  • Melakukan kebiasaan baik, seperti makan makanan bergizi, rutin olahraga, dan istirahat yang cukup; 
  • masa pancaroba, perhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal dan melakukan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah yang dapat menampung air, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang perkembangan jentik-jentik nyamuk, meski pun dalam hal mengubur barang-barang bekas tidak baik, karena dapat menyebabkan polusi tanah. Akan lebih baik bila barang-barang bekas tersebut didaur-ulang.
  • Fogging atau pengasapan hanya akan mematikan nyamuk dewasa, sedangkan bubuk abate akan mematikan jentik pada air. Keduanya harus dilakukan untuk memutuskan rantai perkembangbiakan nyamuk;
  • Segera berikan obat penurun panas untuk demam apabila penderita mengalami demam atau panas tinggi
  • Pencegahan secara massal di lingkungan setempat dengan bekerja sama dengan RT/RW/Kelurahan dengan PUSKESMAS setempat dilakukan dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), Fogging, atau memutuskan mata rantai pembiakan Aedes aegypti dengan Abatisasi.
  • Hindari tidur saat siang hari, Hindari tidur pagi sekitar pukul 06.00 – 10.00 atau sore pukul 15.00 – 17.30. Jikalau harus tidur karena cape, baiknya Juragan tidur memakai lotion anti nyamuk, obat nyamuk elektrik atau semprot kamar anda dengan obat anti nyamuk terlebih dahulu
2. Penanggulangan

Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan terhadap keluhan yang timbul, misalnya :
  • Paracetamol membantu menurunkan demam
  • Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare
  •  Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder

Lakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.


BAB III
PENUTUP

III.1. kesimpulan

Adapun keimpulan dari makalah ini adalah:
  • Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus.
  • Berdasarkan klasifikasinya menurut WHO, DBD terdiri atas 4 tingkatan atau derajad.
  • Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor pembawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari famili
  • Beberapa provinsi yang mengalami peningkatan kasus dibandingakan tahun 2008 adalah Jambi, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat dan Papua. 
  • Jenis carier penyakit DBD adalah Healthy Carier, dimana tidak menular melalui kontak manusia secara langsung pada manusia yang masih sehat tanpa gejala klinis.
  • Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain.
  • Infeksi virus dengue dapat bermanifestasi pada beberapa luaran, meliputi demam biasa, demam berdarah (klasik), demam berdarah dengue (hemoragik), dan sindrom syok dengue.
  • Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu, risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, dan Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, Tapi kini sudah merata, bisa menyerang siapa saja tanpa batasan usia dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.
  • Pencegahan dapat di lakukan melalui 3 macam, yaitu pengendalian lingkungan, biologi dan kimia.

III.2. Saran


    Setiap individu sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit DBD tersebut, sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserangnya demam berdarah.


   


DAFTAR PUSTAKA

Kristina, Isminah, Wulandari L (2004) "Demam Berdarah Dengue" Litbang Depkes http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm. Diakses pada 10 Agustus 2011.
http://rs-tamanhusada.com/admin/foto_berita/poster-demam-berdarah.jpg
http://aa-dbd.blogspot.com/2009/12/waspada-demam-berdarah-dengue.html
http://rahmanbudyono.wordpress.com/2009/01/28/makalah-kesehatan_db/
http://www.google.com//pengertian penyakit demam berdarah/diakses tanggal 25 september 2010.

http://www.google.com//pemberantasan penyakit demam berdarah/diakses tanggal 25 september 2010.

http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_berdarah


makalah filariasis

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan organ kelamin.

Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al, 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelah itu tidak muncul dan sekarang muncul kembali. Filariasis tersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang.

Untuk memberantas filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini dilaksanakan melalui pengobatan masal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk mencegah kecacatan. WHO sendiri telah menyatakan filariasis sebagai urutan kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di Indonesia sendiri, telah melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 Kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahunnya.

Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat Tahun 2010 dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari endemi filariasis.



Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dari  penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui pengertian penyakit filariasis.
  2. Untuk mengetahui penyebab penyakit filariasis.
  3. Untuk mengetahui  cara penularan dari penyakit filarisis.
  4. Untuk mengetahui siklus penularan penyakit filariasis.
  5. Untuk mengetahui  tanda dan gejala penyakit filariasis.
  6. Untuk mengetahui  diagnosis filariasis.
  7. Untuk mengetahui Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis.

Manfaat
Manfaat penyusunan makalah ini adalah agar kita semua dapat mengetahui segala sesuatu tentang filariasis, mulai dari pengertiannya sampai dengan rehabilitasi filariasis itu sendiri. Dengan demikian, diharapkankita semua ikut memberantas penyakit ini secara aktif sehingga tidak menjadi endemi di masyarakat nantinya.


BAB II
PEMBAHASAN


Pengertian Filariasis
Filariasis dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.

Filariasis juga merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah edema, infeksi oleh sekelompok cacing nematoda parasit yang tergabung dalam superfamilia Filarioidea. Gejala yang umum terlihat adalah terjadinya elefantiasis, berupa membesarnya tungkai bawah (kaki) dan kantung zakar (skrotum), sehingga penyakit ini secara awam dikenal sebagai penyakit kaki gajah. Walaupun demikian, gejala pembesaran ini tidak selalu disebabkan oleh filariasis.

Penyebab Penyakit Filariasis
Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing  filaria yang menginfeksi Manusia yaitu :
  • Wuchereria Bancrofti
  • Brugia Timori
  • Brugia Malayi

Cacing filarial ini berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. 3 spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori (Elmer R. Noble & Glenn A. Noble, 1989). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.

Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghipas darah orang tersebut.
Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.  Kalau cacingnya filaria, maka larva mikrofilaria yang dibawa oleh nyamuk akan menyumbat pembuluh dan kelenjar limfe sehingga tidak bisa mengalir ke seluruh bagian tubuh dengan lancar. Akibatnya, terjadilah pembengkakan organ tubuh, seperti pada lengan, kaki atau alat kelamin.

Siklus Penularan Filariasis
  1. Tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vektor ).:
  • Saat nyamuk (vektor) menghisap darah penderita (mikrofilaremia) beberapa mikrofilaria ikut terhisap bersama darah dan masuk dalam lambung nyamuk.
  • Setelah berada dalam lambung nyamuk, mikrofilaria melepas selubung, kemudian menerobos dinding lambung menuju ke rongga badan dan selanjutnya ke jaringan otot thoraks.
  • Dalam jaringan otot thoraks, larva stadium I (LI) berkembang menjadi bentuk larva stadium II (L2) dan selanjutnya berkembang menjadi stadium III (L3) yang efektif.
  • Waktu perkembangan dari L1 menjadi L3 disebut masa inkubasi ektrinsik, untuk spesies Wuchereria bancrofti antara 10-14 hr, Brugia malayi dan Brugia timori 7-10 hr. 5. St. LIII bergerak ke proboscis ( alat tusuk) nyamuk dan akan dipindahkan ke manusia pada saat nyamuk menggit.
  • Mikrofilaria didalam tubuh nyamuk hanya mengalami perubahan bentuk dan tidak berkembang biak (cyclicodevelopmental) sehingga diperlukan gigitan berulang kali utk terjadinya infeksi.
2. Tahap perkembangan dalam tubuh manusia dan hewan perantara ( hospes reservoir ) :
  • Didalam tubuh manusia St. L3 akan menuju sistem limfe dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing dewasa jantan atau betina.
  • Melalui kopulasi, cacing betina menghasilkan mikrofilaria yg beredar dalam darah. Secara periodik seekor cacing betina akan mengeluarkan sekitar 50.000 larva setiap hari.
  • Perkembangan L3 menjadi cacing dewasa dan menghasilkan mikrofilaria W.bancrofti selama 9 bln dan B.malayi, B.timori selama 3 bulan di tubuh manusia.
  • Perkembangan seperti ini terjadi juga dalam tubuh hewan reservoar ( lutung dan kucing).

Tanda dan Gejala
Gejala Filariais Akut dapat berupa:
  • Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat
  • Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit
  • Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
  • Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah
  • Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema)

Gejala klinis:
Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Diagnosis
Bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala klinis, diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat. Seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam darah ditemukan mikrofilaria.  Seseorang yang sudah terinfeksi larva mikrofilaria selam 10-14 hari adalah mereka yang paling berisiko sebagai mesin penular penyakit kaki gajah.  Mereka masih kelihatan normal dan tidak bergejala. Jadi satu-satunya cara untuk mencegah penularannya adalah memutus rantai penyebaran menggunakan obat.  Ini akan lebih mudah ketimbang membunuh nyamuk pembawa larva itu yang jumlahnya sangat banyak.
Pada tahap awal, biasanya penderita akan mengalami demam berulang, ada benjolan yang terasa nyeri pada lipatan paha atau ketiak, dan teraba adanya urat seperti tali yang berwarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak. Sedangkan pada tahap lanjut (kronis) akan terjadi pembesaran yang hilang timbul pada kaki, tangan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita.

Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis

  • Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.

  • Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.

Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.


BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Adapun yang dapat penulis simpulkan berdasarkan hasil penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  • Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam sistem limfe dan ditularkan oleh nyamuk. Bersifat menahun dan menimbulkan cacat menetap.
  • Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing  filaria yang menginfeksi Manusia yaitu :
  1. Wuchereria Bancrofti
  2. Brugia Timori
  3. Brugia Malayi
  • Cara penularannya yaitu Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghipas darah orang tersebut.
  • Siklus Penularan Filariasis yaitu:
  1. Tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vektor )
  2. Tahap perkembangan dalam tubuh manusia dan hewan perantara ( hospes reservoir )
  • Gejala klinis berupa demam berulang 3-5 hari, pembengkakan kelenjar limfe, pembesaran tungkai, buah dada, dan skrotum.
  • Dapat didiagnosis dengan cara deteksi parasit dan pemeriksaan USG pada skrotum.
  • Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan melakukan 3M. Pengobatan menggunakan DEC dikombinasikan dengan Albendazol dan Ivermektin selain dilakukan pemijatan dan pembedahan. Upaya rehabilitasinya dapat dilakukan dengan operasi.

Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan hasil penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan syarat utama untuk menghindari infeksi filariasis.
  • Pemberantasan nyamuk dewasa dan larva perlu dilakukan sesuai aturan dan indikasi.
  • Meningkatkan surveilans epidemiologi di tingkat Puskesmas untuk penemuan dini kasus Filariasis, sehingga dapat meningkatkan kesembuhan. Evaluasi pemberantasan dilaksanakan setelah 5 tahun

Diharapkan pemerintah dan masyarakat lebih serius menangani kasus filariasis karena penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat fisik sehingga akan menjadi beban keluarga, masyarakat dan Negara. Dengan penanganan kasus filariasis ini pula, diharapkan Indonesia mampu mewujudkan program Indonesia Sehat Tahun 2010.


DAFTAR PUSTAKA


http://id.wikipedia.org/wiki/Filariasis

http://kiathidupsehat.com/cara-penularan-penyakit-kaki-gajahfilariasis/

http://orisinil.com/lifestyle/penyakit-kaki-gajah-filariasis/65

http://penyakit-dan-caraperawatan.blogspot.com/2010/12/perawatan-dan-pencegahan-kaki-gajah.html

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6658

http://www.dcamz.web.id/gejala-pencegahan-filariasis-kaki-gajah/

http://www.infopenyakit.com/2009/01/penyakit-kaki-gajah-filariasis-atau.html

http://www.resep.web.id/kesehatan/filariasis-penyakit-kaki-gajah.htm

Rabu, 16 Mei 2012

STRATEGI PEMBANGUNAN SEKTOR KESEHATAN KOTA BAUBAU

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Tujuan nasional Bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalahmelindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukankesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikutmelaksanakan ketertiban dunia yangberdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebutdiselenggarakanlah program pembangunan nasional secara menyeluruh dan berkesinambungan. Di Indonesia, Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah ditetapkan pada tahun 1982.SKN tersebut telah berperanan besar sebagai acuan dalam penyusunan Garis-garis Besar Haluan Negara(GBHN) bidang Kesehatan, penyusunan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, danjuga sebagai acuan dalam penyusunan berbagai kebijakan, pedoman dan arah pelaksanaan pembangunankesehatan.
Memasuki milenium ketiga, Indonesia menghadapi berbagai perubahan dan tantangan strategis yangmendasar baik eksternal maupun internal, yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan pembangunannasional termasuk pembangunan kesehatan.Dalam konteks eksternal, perubahan dan tantangan strategis yang terjadi adalah berlangsungnya eraglobalisasi, perkembangan teknologi, transportasi, dan telekomunikasi-informasi yang mengarah padaterbentuknya dunia tanpa batas.
Dalam konteks internal, perubahan dan tantangan strategis yang terjadi adalah munculnya krisis moneterpada tahun 1997 yang kemudian berkembang menjadi krisis multi-dimensi meliputi krisis politik, ekonomi,sosial, budaya dan keamanan yang mengarah pada disintegrasi Bangsa. Berbagai kondisi tersebutberdampak luas terhadap perikehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, diantaranyameningkatnya pengangguran dan jumlah penduduk miskin, menurunnya derajat kesehatan penduduk yangpada gilirannya berpengaruh terhadap mutu sumberdaya manusia Indonesia.

Untuk bidang kesehatan pembaharuan tersebut telah ditetapkanGerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan, sebagai strategi pembangunan nasional untukmewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu Indonesia Sehat 2010.Selanjutnya berdasarkan visi tersebut, telah berhasil ditetapkan pula dasar-dasar, misi, strategi danparadigma pembangunan kesehatan yang baru yaitu Paradigma Sehat yang inti pokoknya menekankanpentingnya kesehatan sebagai hak asasi manusia, kesehatan sebagai investasi bangsa dan kesehatanmenjadi titik sentral pembangunan nasional. Dalam rangka melaksanakan kebijakan otonomi daerah,desentralisasi merupakan salah satu strategi yang ditetapkan untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010 dan misi pembangunan kesehatan.
Sehingga Pembangunan bidang kesehatan menjadi bagian penting dan prioritas utama, khususnya Pemerintah Kota Baubau selain pendidikan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Upaya mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya masyarakat miskin merupakan strategi utama yang diwujudkan dengan membangun sarana dan prasarana pelayanan kesehatan baik rumah sakit maupun puskesmas dan jaringannya, disertai peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. Selain menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif di RSUD Kota Baubau, Pemerintah Kota Baubau juga menyelenggarakan upaya kesehatan yang sifatnya promotif dan preventif di Puskesmas dan jaringannya. Untuk menyelenggarakan kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat melalui sarana dan prasarana yang telah tersedia, maka Pemerintah Kota Baubau berupaya memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan daerah.



1.2.Tujuan

Adapun tujuan pembuatan laporan ini adalah untuk menganalisis strategi  Pemerintah Kota Baubau. Di mana strategi ini akan di analisis menggunakan analisis swot yang bertujuan untuk melihat strategi yang telah dibuat dari segi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dapat di jadikan sebagai  acuan  dalam menentukan kebijakan Pemerintah Kota Baubau di bidang Kesehatan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perencanaan Pembangunan Kesehatan

Perencanaan Pembangunan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan akan menjadi efektif jika perumusan masalah sudah dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan bukan berdasarkan emosi atau angan-angan saja. Fakta-fakta diungkap dengan menggunakan data untuk menunjang perumusan masalah. Perencanaan juga merupakan proses pemilihan alternative tindakan yang terbaik untuk mencapai tujuan. Perencanaan juga merupakan suatu keputusan untuk mengerjakan sesuatu di masa akan datang, yaitu suatu tindakan yang diproyeksikan di masa yang akan datang.
            Salah satu tugas manajer yang terpenting di bidang perencanaan adalah menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek organisasi berdasarkan analisis situasi di luar (eksternal) dan di dalam (internal) organisasi. (sumber Muninjaya,gde.2004. Manajemen Kesehatan : Jakarta).
Analisis situasi dalam hal ini dilakukan untuk mengahsilkan rumusan tujuan (setting strategic and operational objectives) untuk arah pengembangan organisasi. Setelah tujuan straregis dan operasional dirumuskan, tim perencana kemudian merancang program pengembangan (program atau product design) yang dibutuhkan organisasi dalam hal ini di bidang kesehatan.


Analisis situasi baik secara internal maupun eksternal, yang dalam hal ini adalah Analisis SWOT yang meliputi :
1.        Strenght (Kekuatan) Adalah bagian dari analisa internal. Mengupas kekuatan organisasi yang dapat menjadi keunggulan di antara organisasi lain sejenis. Organisasi memiliki data dan perencanaan yang valid sebagai strategi penentuan pelaksanaan rencana.
2.        Weakness (Kelemahan) Adalah bagian dari analisa internal. Mengupas kelemahan organisasi yang dapat menjadi hambatan di antara organisasi lain sejenis.
3.        Opportunity (Peluang) Adalah bagian dari analisa eksternal. Mengupas  keadaan eksternal yang dapat dipenuhi oleh organisasi dalam hal ini melihat peluang dari luar yang bisa dijadikan acuan dalam proses perencanaan.
4.        Threat ( Ancaman) Adalah bagian dari analisa eksternal. Mengupas  keadaan eksternal yang dapat  menjadi ancaman bagi kelangsungan organisasi.
Analisis SWOT meliputi:
1.        Penilaian internal (internal assessment) . Dengan penilaian internal peneliti menganalisis atau menilai posisi organisasi, kinerja, masalah dan potensial.
2.        Penilaian eksternal (external assessment). Dengan penilaian faktor-faktor atau kekuatan-kekuatan yang berpengaruh/ berdampak terhadap fungsi peningkatan kesehatan masyarakat dalam menunjang kebijakan kesehatan.
3.        Analisis lingkungan. Analisis ini bertujuan menilai dan melihat peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan luar yang dihadapi oleh organisasi. Dalam hal ini dikenal sebagai peluang dan ancaman (Ini berhubungan dengan butir 3 dan 4 di atas).
4.        Analisis Institusional. Analisis ini berhubungan dengan kondisi internal organisasi itu sendiri. Misalnya kekuatan apa yang dimiliki organisasi dan kelemahan yang ada dalam organisasi yang dapat menjadi penghambat jalannya kegiatan atau program organisasi (Ini berhubungan dengan butir 1 dan 2 di atas).
Setelah membahas analisis SWOT di atas, kita akan menampilkan sebuah model yang cukup komprehensif dalam mendukung perencanaan. Model ini di sebut Matriks TOWS yang dikembangkan oleh David dalam Salusu (2008:364-366) dimana ada empat strategi yang tampil dari hasil analisis TOWS tersebut :
1.        Strategi SO di pakai untuk menarik keuntungan dari peluang yang tersedia dalam lingkungan ekternal
2.        Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang dari hasil lingkungan luar
3.        Strategi ST akan digunakan organisasi untuk menghindari, paling tidak memperkecil dampak dari ancaman yang datang dari luar.
Strategi WT adalah strategi pertahanan yang diarahkan pada usaha memperkecil kelemahan internal dan menghindari ancaman ekternal.








Matriks TOWS
STREGTHS
Menyusun daftar kekuatan
WEAKNESSES
Menyusun daftar kelemahan
OPPORTUNITIES
Menyusun daftar peluang
Memakai kekuatan untuk memanfaatkan peluang
STRATEGI SO
Menanggulangi kelemahan dengan memanfaatkan peluang
STRATEGI WO
THREATS
Menyusun daftar ancaman
Memakai kekuatan untuk menghindari ancaman
STRETEGI ST
Memperkecil kelemahan dan menghindari ancaman
STRATEGI WT


2.2. Pengertian Strategi Kesehatan
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
Startegi menurut beberapa ahli, di antaranya adalah:
a)   Fred R. David ( Fred R David, 2004 : 15 ) strategi adalah cara untuk mencapai tujuan yang panjang.
b)   Menurut Wheelan dan Hunger; strtegi merupakan program perencanaan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan memaksimalkan keunggulan bersaing dan meminimalisi kelemhan.
c)   Menurut Porter (1985) (Freddy Rangkuly); strategii adalah hal yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.
d)  Menurut Argys(1905), Minizberg(1979), Stoner dan Miner (1977) dalam (Freedy Rangkully, 1997); strategi merupakan respon terus menerus maupun adaptif terhadappeluang dan ancaman eksternal serta kelemahan dan kekuatan eksternal.
Strategi utama kesehatan:
a)   Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
b)   Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
c)   Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
d)  Meningkatkan pembiayaan kesehatan.
2.3.  Pengertian Kebijakan Kesehatan
Kebijakan kesehatan adalah jaringan keputusan yang saling berhubungan untuk membentuk suatu strategi atau pendekatan dalam hubungannya dengan isu-isu praktis mengenai pelayanan kesehatan.
Kebijakan kesehatan meliputi:
a)             Penggalangan kemitraan lintas sector
b)            Peningkatan  pengawasan dan akuntabilitas
c)             Peningkatan kemampuan daerah
d)            Pemberdayaan masyarakat dan swasta
e)             Pengembangan sumberdaya kesehatan
f)             Pelaksanaan upaya kesehatan




2.4.Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
Rencana Strategi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Renstra Kesehatan 2010-2014),  tentunya sangat penting bagi aparat-aparat atau semua stakeholder kesehatan di tingkat Propinsi dan kabupaten/kota, perlu membacanya, mendalaminya dan mengkonversikan dalam rencana strategis kesehatan pada masing-masing propinsi dan kabupaten  maupun kota, agar mudah diaplikasikan di tingkat pelayanan, mempunyai semangat misi strategis dan dorongan visi kesehatan yang dibuat untuk mewujudkan tujuan dari pembangunan kesehatan.
2.5. Arah kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan
Arah Kebjakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan selama tahun 2010-2014: menguraikan Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan dengan program-program secara garis besarnya terdiri dari dua program yaitu program generik dan program tehnis.

2.6.  Dasar kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan
Dasar kebijakan strtegis dalam pembangunan kesehatan terkandung dalam Visi kementerian Kesehatan sekaligus juga sebagai visi pembangunan kesehatan  selama 5 tahun kedepan (2010-2015) adalah  “MASYARAKAT SEHAT YANG MANDIRI DAN BERKEADILAN”
Misinya adalah Untuk mencapai visi MASYARAKAT SEHAT MANDIRI DAN BERKEADILAN ditempuh melalui misi sebagai berikut:
a.         Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.
b.        Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.
c.         Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan.
d.        Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.
Sementara itu Tujuannya (TUJUAN KEMENTERIAN KESEHATAN) termasuk  juga tujuan dari pembangunan kesehatan yaitu : Terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Guna mewujudkan visi dan misi rencana strategis pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai yaitu:
a)        PRO RAKYAT. Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan haruslah menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama, dan status social ekonomi.
b)        INKLUSIF, Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak, karena pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan demikian, seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat madani dan masyarakat akar rumput.
c)        RESPONSIF, Program kesehatan haruslah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan di daerah, situasi kondisi setempat, social budaya dan kondisi geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang berbeda-beda, sehingga diperlukan penanganan yang berbeda pula.
d)       EFEKTIF, Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan, dan bersifat efisien.
e)        BERSIH, Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel.
2.7.  Proses Kebijakan Kesehatan:

a.         Perumusan masalah
b.        Forecasting (peramalan)
c.         Rekomendasi kebijakan
d.        Implementasi kebijakan
e.         Monitoring kebijakan
f.         Evaluasi kebijakan

2.8. Sasaran Strategis Dalam Pembangunan Kesehatan
Sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan tahun 2010- 2014,  dibuat sebanyak 8 strategis yaitu:
Pertama: Meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat
Kedua :  Menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular, dengan:
Ketiga : Menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender, dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009.
Keempat : Meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka mengurangi risiko finansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama penduduk miskin.
Kelima : Meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat rumah tangga dari 50 persen menjadi 70 persen.
Keenam : Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK).
Ketujuh : Seluruh provinsi melaksanakan program pengendalian penyakit tidak menular.
Kedelapan: “Seluruh Kabupaten/Kota melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
2.9. Analisis kebijakan kesehatan
Analisis kebijakan kesehatan adalah apapun pilihan pemerintah untuk  melakukan atau tidak, dalam mengambi kebijakan di bidang kesehatan berlandaskan atas manfaat yang optimal yang akan  diterimaoleh masyarakat.

Peranan analisis kebijakan kesehatan adalah:
a.         Mampu cepat mengambil focus pada kriteria keputusan yang paling sentral
b.        Mempunyai kemampuan analisis multi-disiplin
c.         Mampu memikirkan jenis-jenis tindakan kebijakan yang dapat diambil
d.        Mampu mengatasi ketidak pastian
e.         Mampu membuat rumusan analisa yang sederhana namun jelas
f.         Mampu memeriksa fakta-fakta yang diperlukan, dll


Aspek pertimbangan analisis kebijakan kesehatan:
a.    Kemiskinan
Kemiskinan Adalah suatu kekurangan kebutuhan dasar untuk mempertahankan hidup dan kebutuhan bersifat relatif. kesepakatan bahwa siapapun masyarakat dalam keadaan kesehatan kurang baik dan buruk harus mendapatkan pertolongan pendekatan yang digunakan untuk melihat kemiskinan dan mortalitas adalah:
a)        Pendapatan
b)        Perbedaan status sosial
c)        Perawatan kesehatan moderen
d)       Perubahaaan budaya dan prilaku
e)        Kombinasi dari berbagai aspek diatas

b.    Keadilan
Pemerataan sosial
a)        Akses pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
b)        Mekanisme pengalokasian sumberdaya kesehatan apakah dalam terminologi expenditure,terminologi input ataupun terminologi akses
c)        Jaminan bahwa wilayah-wilyah yang berbeda, tetap tersedia obat-obatan yang sama baiknya meksipun biaya pelayanan tiap wilayah berbeda.

c.    Pembangunan
Pembangunan adalah perubahan pada suatu keadaan / kondisi yang dianggap lebih baik (kesejahteraaan) dan dilakukan secara terus menerus dan terencana.


d.    Bantuan dan sektor kesehatan
a)      Bantuan dalam hubungan global
a.    menyankut proses batuan hibah / grant dan pinjaman
b.    bantuan tidak akan terjadi jika tidak ada keuntungan yang nyata ( baik dari pihak penerima atau pendonor)
b)      sustainabilitas bantuan

e.    privatisasi dalam sektor kesehatan
Pemerintah bertangung jawab terhadap kesehatan masyarakatnya, dimana hanya dapat dilaksanakan dengan menyediakan sistem kesehatan dan sistem sosial yang tepat.



BAB III
PEMBAHASAN

3.1.       Strategi Kesehatan Kota Baubau Yang Di Analisis Menggunakan Analisis SWOT
Menurut Wheelan dan Hunger; strategi merupakan program perencanaan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan memaksimalkan keunggulan bersaing dan meminimalisi kelemahan.
Strategi yang dikeluarkan antara lain:
a.         Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
b.        Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
c.         Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
d.        Meningkatkan pembiayaan kesehatan.
Sesuai dengan defenisi strategi di atas, maka pemerintah Kota Baubau    merumusksn beberapa strategi. Di mana strategi ini akan di analisis menggunakan analisis swot yang bertujuan untuk melihat strategi yang telah dibuat dari segi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dapat di jadikan sebagai  acuan  dalam menentukan kebijakan Pemerintah di bidang Kesehatan. Strategi tersebut di antaranya:

1.         Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat:
a.         Masyarakat harus berperan aktif dalam pembangunan kesehatan
b.        UKBM terus dikembangkan dalam mewujudkan “desa siaga” menuju desa sehat
c.         Dalam pengembangan desa siaga perlu melibatkan lsm, utamanya PKK.
d.        UKBM yg mampu memberikan pelayanan kes komprehensif
Sasaran utama dari strategi di atas adalah:
a.         Seluruh desa menjadi desa siaga
b.        Seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat
c.         Seluruh keluarga sadar gizi

Analisis swot berdasarkan strategi di atas adalah:
Kekuatan :
a.         Di Kota Bau-Bau sendiri kini telah di galakan semacam kader kesehatan, dimana para kader ini di latih dan di berikan pengetahuan tentang kesehatan yang selanjutnya pengetahuan yang ia dapatkan di transfer kembali ke masyarakat lainnya.
b.        Adanya UKBM yang didirikan di setiap kelurahan. Seperti  posyandu,
c.         Untuk masalah PHBS, pemerintah berupaya membangun WC umum bagi masyarakat, tempat sampah, SPAL dan lain-lain yang tujuannya untuk meningkatkan masyarakat untuk hidup sehat.
Kelemahannya:
a.         Peran serta masyarakat dengan menjadi kader kesehatan, selalu di warnai dengan drop out kader sehingga kader yang terlatih jumlahnya selalu berkurang. Dimana hal ini di karenakan kader yang berganti-ganti terus jarang ada yang bertahan dan gaji kader berasal dari pemberian insentif yang jumlahnya tidak menentu.
b.        Dari segi ekonomi, banyak masyarakat yang ingin berubah tapi terkendala dari ekonomi yang tidak memungkinkan.
c.         Dalam hal pendanaan, dana sehat yang di luncurkan pemerintah pusat tidak berjalan sesuai keinginan, dimana masih dapatkan pemberian bantuan yang salah sasaran. Dalam hal ini yang seharusnya di berikan kepada masyarakat miskin, malah yang mendapatkannya masyarakat yang msih tergolong mampu.
d.        Masalah UKBM, masih banyak juga para ibu hamil atau ib u yang mempunyai balita tidak memanfaatkan posyandu. Hal ini di sebabkan karena banyak para ibu terlalu sibuk dengan pekerjaanya sehingga tidak sempat ke posyandu.
e.         Masih banyak masyarakat yang tidak memafaatkan pekarangan rumahnya.
f.         Bahkan tempat sampah yangn di buat tidak di manfaatkan oleh masyarakat. Mereka malah membuang sampah bukan pada tempatnya. Ini di akibatkan karena kebiasaan dari masyarakat yang sulit di rubah.
Peluang :
a.         keinginan masyarakat mengenai kesehatan juga besar. Hal ini juga di kuatkan dengan banyaknya masyarakat yang mulai sadar akan pentingya kesehatan baik individu (UKP) dan kelompok (UKM).
b.        Meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada para ibu setiap kali berkunjung ke posyandu yang di lakukan oleh para kader kesehatan.
c.         Bagi masyarakat yang mempunyai pekarangan agar di manfaatkan sebagai toga, yang mana hasilnya nanti dapat di manfaatkan.
Ancaman :
a.      Dari strategi di atas, mengingat Kota Bau-Bau masih kental terhadap hal-hal yang mistis, maka kepercyaan atau keyakinan masyarakat yang sulit untuk di rubah dan di masuki.
b.      Sebagian besar jamban yang di bangun pemerintah untuk fasilitas umum di jadikan sebagai milik pribadi.

Matriks tows

STREGHT (kekuatan)
WEAKNES(kelemahan)


OPPORTUNITY (peluang)
Pemerintah hrs meningkatkan kualitas kader, dan berusaha mengubah perilaku masyarakat agar mereka memanfaatkan sumber daya yang ada dengan cara memberi gaji kepada kader dan meningkatkan penyuluhan untuk menambah pengetahuan masyarakat akan kesehatan.
Pemerintah harus berpikir dan tidak menjadikan kelemahan-kelemahan tersebut sebagai hambatan dengan cara memanfaatkan peluang-peluang yang ada.
THEART (ancaman)
Pemerintah harus bisa meyakinkan masyarakatnya (peran kader) tentang manfaat yang akan di dapat apabila memanfaatkan sarana2 kesehatan agar masyarakat tidak terjerumus terhadap hal-hal yang tidak di inginkan.
Pemerintah dan masyarakat sama-sama peran aktif atau kerja sama dalam menyelesaikan kelemahan yang menjadi hambatan.

2.      Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas:
a.         Depkes (pemerintah) mengutamakan UKM yang dipadukan secara serasi & seimbang dengan  UKP
b.        Depkes memfasilitasi upaya revitalisasi sistem pelayanan kesehatan dasar
c.         Depkes memfasilitasi peningkatan jumlah dan kualitas SDM kesehatan
d.        Perlu ditunjang dengan administrasi kesehatan dan peraturan perundang-undangan, serta litbangkes.
Sasaran utamanya adalah:
a.         Setiap orang miskin mendapat yankes yg bermutu.
b.        Setiap bayi, anak, ibu hamil dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dr penyakit.
c.         Di setiap desa tersedia sdm kes yg kompeten.
d.        Di setiap desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar.
e.         Setiap puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.
f.         Pelayanan kes di setiap rumah sakit, puskesmas dan jaringannya memenuhi standar mutu.

Analisis swot berdasarkan strategi di atas adalah:
Kekuatan :
a.         upaya pemerintah di buktikan dengan penambahan 2 fasilitas puskesmas yaitu di Kelurahan BWI dan Kelurahan Melai. Dimana dengan penambahan puskesmas ini di harapkan akses masyarakat terhadap kesehatan akan lebih mudah lagi. Karena sebelumnya pemerintah telah membangun sarana kesehatan, di antaranya adalah :
Sarana Kesehatan Pemerintah

1.      Rumah sakit (Tipe C)              :           3          buah
2.      Rumah sakit Bhayangkara      :           1          buah   
3.      Puskesmas non Perawatan      :           1          buah
4.       Puskesmas Perawatan            :           3          buah
5.      Puskesmas Pembantu              :           11        buah
6.      Poskesdes                                :           33        buah
7.      Polindes                                  :           16        buah
8.      Puskel Roda empat                 :           11        buah
9.      Apotek Pelengkap                   :           1          buah
10.  Praktek Dokter                        :           1          buah

Sarana Kesehatan Swasta
1.    Apotek                                     :           25       buah
2.    Toko Obat Berizin                   :           15        buah
3.    Rumah Bersalin                       :           1          buah
4.    Klinik                                       :           2          buah
5.    Praktek Dokter Bersama          :           0          buah
6.    Tempat Praktek Pribadi           :           31        buah

       Sarana Kesehatan Bersumber  Daya Masyarakat

1.    Posyandu yang ada                  :           131      buah
2.    Posyandu yang aktif                :           131      buah
b. Dengan tenaga kesehatan yang tersedia adalah :
a.        Tenaga Dokter Umum
Tahun 2009 tenaga dokter umum berjumlah 26 orang yang tersebar di puskesmas 13 orang, Dinas Kesehatan 1 orang, RSUD 8 orang, Klinik Murhum 3 orang dan Rumah Bersalin Zafira 1 orang. Tahun 2010 tenaga dokter umum berjumlah 28 orang yang tersebar di puskesmas 11 orang, Dinas Kesehatan 1 orang, RSUD 12 orang, Klinik Murhum 3 orang dan Rumah Bersalin Zafira 1 orang
b.        Tenaga Dokter Ahli
Tahun 2010 jumlah dokter ahli 7 yang meliputi 1 orang spesialis penyakit anak, 1 orang ahli penyakit dalam, 1 orang ahli bedah, 3 orang ahli kandungan dan 1 orang ahli radiologi.

c.        Tenaga Dokter Gigi

Tahun 2010 jumlah dokter gigi sebanyak 13 orang yang tersebar di Puskesmas 9 orang dan RSUD 3 orang dan 1 orang di klinik murhum Rasio terhadap 100.000 penduduk adalah 9,5 orang.
d.        Tenaga Kefarmasian 

Tenaga kefarmasian di Kota Baubau tahun 2010 sebanyak                         31 orang dengan tingkat pendidikan sebagai berikut :
Apoteker sebanyak 13 orang yang tersebar di Puskesmas 3 orang, Dinas Kesehatan 3 orang, RSUD 4 orang dan klinik swasta 3 orang. S1 Farmasi sebanyak 10 orang yang tersebar di puskesmas 5 orang, Dinas Kesehatan 2 orang dan rumah sakit 3 orang. D III Farmasi sebanyak 2 orang yang tersebar di Puskesmas 2 orang. Asisten apoteker sebanyak 6 orang yang tersebar RSUD 2 orang dan klinik swasta 4 orang.
e.        Tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat

Tahun 2010 jumlah tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat 53 orang yang tersebar 21 orang di Puskesmas, 20 orang di Dinas Kesehatan Kota Baubau, 11 orang di RSUD dan 1 orang di klinik swasta. Rasio terhadap 100.000 penduduk adalah 3,87 orang.
f.         Tenaga Bidan

Jumlah tenaga bidan di Kota Baubau tahun 2010 adalah 119 orang terdiri dari D IV Bidan sebanyak 4 orang, D III Bidan 65 orang, dan Bidan D I 50 orang.
 Rasio terhadap 100.000 penduduk adalah 86,87 orang.
g.        Tenaga Perawat

Tahun 2010 jumlah tenaga perawat di Kota Baubau adalah 278 orang yang tersebar di Puskesmas 128 orang, di Dinas Kesehatan 3 orang dan 111 orang di RSUD. RS Bhayangkara 4 orang, Klinik Swasta 32 orang.   
h.      Tenaga sanitasi
Jumlah tenaga sanitasi di Kota Baubau tahun 2010 sebanyak 31 orang, dengan tingkat pendidikan sebagai berikut: D III Sanitasi sebanyak 28. Dan D I Sanitasi sebanyak 3 orang yang  terdapat di Puskesmas 2 orang dan di RSUD 1 orang.


i.          Tenaga Gizi
Jumlah Tenaga Gizi di Kota Baubau tahun 2010 sebanyak 51 orang dengan tingkat pendidikan sebagai berikut: D III Gizi sebanyak 34 orang, DI Gizi sebanyak 17 orang yang tersebar di Puskesmas 14 orang dan 3 orang di Dinas Kesehatan.
j.         Tenaga Teknisi Medis
Tenaga teknisi medis di Kota Baubau tahun 2010 adalah sebanyak 29 orang dengan tingkat pendidikan sebagai berikut: Analis laboratorium sebanyak 14. Penata Anestesi sebanyak 6 orang. Fisioterapi sebanyak 9 orang yang hanya terdapat di RSUD.
  Rasio terhadap 100.000 penduduk adalah 21,17 orang.
c.         Selain sarana dan prasarana yang ada pemerintah Kota Baubau juga memberikan jaminan kesehatan dalam bentuk Jamkesmas, Jampersal, BOK (Biaya Operasional Kesehatan), Askeskin dan lain-lain yang tujuannya agar semua lapisan masyarakat yang ada di Kota Baubau dapat menerima pelayanan kesehatan yang bermutu.
d.      Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit mengingat, mengingat salah satu faktor pendorongnya adalah adanya jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Kelemahan :
a.         Kelemahan dari stratgi di atas adalah masyarakat masih menganggap akses yang di berikan oleh pemerintah masih jauh  dari yang di harapkan. Hal ini di karenakan bertambahnya fasilitas tidak di sertai dengan pertambahan tenaga kesehatan.
b.        Masih banyaknya masyarakat yang tidak mendapat jaminan kesehatan. Yang di sebabkan karena masalah pendataan yang tidak merata dimana lebih mementingkan keluarga si pendata itu sendiri, ( sistem kekeluargaan dalam pendataan tidak memandang dia tergolong mampu atau tidak ).
c.         Kelemahan yang ada adalah sistem rujukan belum berjalan dengan baik sehingga pelayanan kesehatan tidak efisien. Selain itu kualitas tenaga kesehatan yang masih rendah.
Peluang :
a.         Adapun peluang dari strategi ini adalah keinginan masyarakat dengan adanya akses pelayanan kesehatan sangat mendukung untuk pengadaan fasilitas. Dalam arti, Masyarakat mendukung dan menyambut positif dengan  pengadaan fasilitas  ini.
b.        Banyaknya pendidikan kesehatan di Kota Baubau merupakan peluang yang baik untuk pemerintah mulai berbenah dan mulai mempersiapkan bibit-bibit unggul dan individu-individu yang memang paham mengenai kesehatan itu sendiri.
c.         Dari segi dana, baik pusat maupun daerah, memberikan penganggaran yang memadai. Dimana anggaran ini di utamakan untuk pencegahan dan promosi kesehatan.

Ancaman :
a.         Adapun ancaman dari strtegi ini adalah ketika akses pelayanan di berikan oleh pemerintah, namun tenaga kesehatan juga kurang atau bahkan tidak profesional maka hal ini akan sia-sia.
b.        Meskipun jaminan kesehatan telah di berikan kepada masyarakat miskin, tetapi masih banyak di temukan masyarakat yang bingung ( minimnya pengetahuan masyarakat akan penggunaan kartu jamkes yang mereka miliki).
c.         Untuk Kota Baubau sendiri, pelayanan bagi pengguna kartu Jaminan kesehatan kurang di perhatikan. Berbeda dengan pasien yang membayar tunai.


Matriks tows

STREGHT (kekuatan)
WEAKNES(kelemahan)

OPPORTUNITY (peluang)
Memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat denagn memanfaatkan sumber daya kesehatan yang ada. Terutama pada masyarakat miskin dengan cara memanfaatkan jaminan kesehatannya.
Meningkatkan kualitas tenaga kesehatan melalui pendidikan kesehatan yang ada di Kota Baubau.
THEART (ancaman)
Meningkatkan pelayan bagi para pengguna jaminan kesehatan , supaya minat masyarakat untuk berkunjung ke yankes makin meningkat.
Meyakinkan masyarakat terhadap akes pelayanan kesehatan sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam pengurusan rujukan.


3.Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan:
a.         Dilakukan dengan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pelaporan masalah kesehatan
b.        Dalam keadaan darurat kesehatan, depkes melakukan pengerahan anggaran dan tenaga pelaksana dalam investigasi dan respons cepat.
c.         Early warning system  dan penunjang kedaruratan kesehatan ditingkatkan.
d.        Pemantapan sik.
Sasaran utamanya adalah:
a)    Setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat  kepada kepala desa/lurah untuk kemudian diteruskan ke instansi kes terdekat
b)   Setiap klb dan wabah penyakit tertanggulangi secara cepat dan tepat shg tdk menimbulkan dampak kesmas
c)    Semua  sediaan farmasi, makanan dan perbekalan kesehatan memenuhi syarat
d)   Terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai dengan standar kesehatan
e)    Berfungsinya sistem informasi kes yg evidence based di seluruh indonesia,

Analisis swot berdasarkan strategi di atas adalah:
Kekuatan :  
a.         Pada strategi ini yang menjadi kekuatannya adalah petugas survailance yang cepat tanggap, dan sewaktu-waktu ketika informasi dari puskesmas kurang, maka petugas survailance ini akan muncul secara tiba-tiba (di puskesmas) untuk melihat sejauh mana perkembangan kesehatan di wilayah kerja puskesmas itu sendiri.
b.        setiap bulannya tim khusus yang di tugaskan akan memantau kegiatan yang di lakukan oleh petugas puskaesmas (mini loka karya). Selain memanntau kgiatan petugas puskesmas, tim ini juga memberikan atau mensosialisasikan apabila ada informasi atau kebijakan baru yang di keluakan dari pemerintah daerah maupun pusat.
c.         adanya pukesmas keliling yang senantiasa memberikan informasi kepada masyarakat apabila terdapat informasi-informasi baru berhubungan dengan kesehatan dan juga pemerintah memasang berbagai informasi kesehatan di tempat-tempat seperti baleho dan poster.
d.        Perkembangan teknologi yang berdampak pada peningkatan SIK.
Kelemahan :
a.         penyampaian informasi yang di berikan oleh para petugas kesehatan kepada petugas puskesmas, tidak langsung di sampaikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat merasa ketinggalan akan informasi yang di anggap penting dalam menjaga atau memelihara kesehatannya.
b.        Dana untuk pengembangan sistem informasi kesehatan di Kota Baubau masih terbatas, akibatnya informasi tidak sampai ke masyarakat.
c.         Keterbatasan masyarakat dalam mengakses informasi yang ada.
d.        Pengolahan data kesehatan belum optimal. Hal ini di sebabkan kemuanpuan tenaga kesehatan yang belum memadai.

Peluang :
b.        Berbicara informasi, seiring dengan perkembangan teknologi maka penyampaian informasi mengenai kesehatan akan sangat mudah, dengan akses internet yang cepat dan adanya salah satu stasiun TV di Kota Baubau yang bisa di jadikan sebagai sarana untuk penyampaian informasi kesehatan di harapkan mampu di fungsikan dengan baik.
c.         Meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat yang secara tanggap dalam menyelesaikan masalah-masalah kesehatan dengan cara masyarakat harus secara cepat memberikan informasi kepada pemerintah apabila terdapat maslah-masalah baru yang berhubungan dengan kesehatan. Agar pemerintah segera menyelesaikan masalah tersebut.
d.        Memanfaatkan sumber daya yang ada untuk proses pengumpulan data dan penyampaioan informasi.

Ancaman :
a.         Kebijakan otonomi daerah  artinya semua kebijakan di atur oleh daerah itu sendiri termaksut masalah kesehatan. Sehingga akan menambah beban pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di Kota Baubau.
b.        Apabila dana tidak cukup maka pemerintah akan melakukan pinjaman dari pihak lain.

Matriks tows

STREGHT (kekuatan)
WEAKNES(kelemahan)
OPPORTUNITY (peluang)
Dengan tenaga-tenaga kesehatan yang telah di tunjuk khusus oleh atasannya, mereka harus berusaha untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat dengan memanfaatkan peluang yang ada baik media massa maupun media cetak.
Dengan keterbatasan-keterbatasan yang di miliki oleh pemerintah, maka di harapkan bagi masyarakat yang telah mendapatkan informasi untuk di sampaikan kepada masyarakat yang lain. Agar informasi tersebut dapat di ketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.
THEART (ancaman)
Dengan tenaga-tenaga kesehatan yang telah di percayakan oleh pemerintah, di harapkan mampu mengatasi ancaman atau tantangan yang menjadi hambatan dalam pengambilan data ataupun penyampaian informasinya.
Dana yang tersedia harus di manfaatkan dengan baik, agar
Pemerintah tidak mengharapkan pinjaman dari luar.

4.Meningkatkan pembiayaan kesehatan:
a.         Depkes harus melakukan advokasi dn sosialisasi
b.        Mengupayakan secara bertahap 15% dari anggaran belanja pemerintah
c.         Pengembangan jaminan kesehatan sosial yang dimulai dgn askeskin
d.        Mengupayakan fasilitas kesehatan pemerintah dpt mengelola pendapatan dari pelayanan.
Sasaran utamanya adalah:
a.         Pembangunan kes memperoleh prioritas penganggaran pemerintah pusat dan daerah
b.        Anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan
c.         Terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin.

Analisis swot berdasarkan strategi di atas adalah:
Kekuatan :
a.         Tahun 2009 total anggaran yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau Rp.13.455.815.738,- yang terdiri atas APBD Rp.5.328.675.738, Dana Alokasi Khusus 7.238.300.000,-. Dan tahun 2010 total anggaran yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau Rp. 5.583.817.472,- yang terdiri atas APBD Rp. 2.123.225.4a72,- Dana Alokasi Khusus Rp.2.628.400.000,- dana JamKesMas adalah sebesar Rp. 776.620.000,- dan dana APBD PROVINSI (Bahteramas) Rp. 55.572.000,-
b.        UU No.36 taqhun 2009 tentang kesehatan mengatur besaran anggaran kesehatan pusat adalah 5 % dari APBN propinsi kabupaten/Kota  10% di Luar gaji, dengan peruntukannya 2/3untuk pelayanan publik .
c.         Pengadaan jampersal bagi warga yang kurang mampu melakukan persalinan di rumah sakit.

Kelemahan :
a.         Kelemahan dari strtegi ini adalah dana yang ada lebih banyak di gunakan untuk upaya kuratif.
b.        Pengelolaan dana yang telah di kucurkan belum sempurna, ini dapat di lihat, pada  penyebaran bantuan (dalam bentuk jaminan kesehatan yang tidak merata di salurkan kepada masyarakat miskin)
c.         Kurangnya iman para pemimpin dalam mengelolah dana yang ada.
d.        Anggaran kesehatan indonesia relatif kecil  yakni hanya 1,7% dari total belanja pemerintah baik melalui APBN, maupun APBD.                                                  
Peluang :
Memilih orang orang yang bisa di percaya untuk mengelolah dana agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan
Ancaman :
Dana yang di gunakan untuk masyarakat, di manfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Matriks tows

STREGHT (kekuatan)
WEAKNES(kelemahan)

OPPORTUNITY (peluang)
Pemerintah harus menggunakan dana sesuai dengan kebutuhasn dan peluang yang ada
Dengan dana yang tidak cukup, pemerintah harus berupaya unutk memanfaatkan  sumberdaya yang lain untuk menutupi kekurangannya.
THEART (ancaman)
Dana yang ada harus benar-benar di pergunakan untuk masyarakat dan tidak memberikannya kepada orang-orang yang tidak bertamnggung jawab.
Kurangnya dana tidak berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat.

3.2.  Pengertian kebijakan kesehatan Kota Baubau

Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi, yang bersifat mengikat, yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk menciptakan tatanilai baru dalam masyarakat. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. Berbeda dngan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation), kebijakan lebih bersifat adaptif dan intepratatif, meskipun kebijakan juga mengatur apa yang boleh, dan apa yang tidak boleh´.



 Dengan landasan hukumnya antara lain:
a.         UU  No 23/1992 tentang Kesehatan
b.        KEPRES No 7/2005 tentang RPJMN
c.         KEP MENKES No. 131 Thn 2003 tentang SKN
d.        SK MENKES No.2 Thn 2003 tantang Indonesia Sehat 2010
e.         KEP MENKES No. 932 Thn 2002 tentang Juklak Pengambangan

Maka pemerintah daerah kota Bau-Bau mengeluarkan kebijakan berupa:
a.         Memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal
b.        Meningkatkan kualitas SDM kesehatan
c.         Meningkatkan promosi lingkungan sehat
d.        Menurunkan angka kematian ibu dan anak
e.         Memasyarakatkan makanan dengan gizi yang seimbang
f.         Meningkatkan pembinaan dan Pengawasan NAPZA




BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat di simpulkan bahwa:
Pemerintah Kota Baubau berusaha dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk memberikan pelayanan-pelayanan terbaik kepada masyarakatnya. Dengan membuat stratgi dan mengeluarkan kebijakan,  dimana semua itu di laksanakan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kota Baubau. Adapun yang menjadi kelemahan dan  ancaman sebisa mungkin pemerintah meminimalisir dengan cara memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada.
4.2.Saran
Kesehatan merupakan modal yang sangat berharga dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Perbaikan mutu kesehatan masyarakat berdampak pada meningkatnya kualitas hidup masyarakat dan juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kualitas sumber daya manusia yang baik, dapat menjadi modal untuk membangun bangsa ke arah yang lebi maju. Oleh karena itu, seyogianya  pemerintah turun langsung ke lapangan untuk meninjau sejauh mana keberhasilan strategi dan kebijakan yang telah di keluarkan.





DAFTAR PUSTAKA

Narasi profil Dinas Kesehatan kota Baubau 2010
H. Abubakar Badjuri dan Tcguh Yuwono (2002), “Kebijakan Publik, Konsep dan Stratcgi”, JIP FISIP Univcrsitas Diponcgoro, Semarang